Mojang Priangan Perintis Pendidikan (lomba menulis artikel)

Dewasa ini, perempuan dan pendidikan kerap menjadi buah bibir. Bagaimana tidak, perempuan masih banyak tertinggal dalam beberapa hal. Dalam hal pendidikan, misalnya. Alasannya beragam. Namun, alasan yang paling umum adalah kebanyakan perempuan merasa puas dengan pendidikannya yang hanya sampai di SMA/sederajat. Beberapa perempuan memiliki prinsip bahwa pendidikan bukanlah hal yang utama. "Untuk apa sekolah tinggi? Toh nanti juga cuman diam di dapur," kata mereka. Tidakkah mereka tahu betapa sulitnya bangsa Indonesia terdahulu untuk bisa mengenyam pendidikan? Tidakkah mereka tahu bahwa ada seorang perempuan dengan jerih payahnya membuka jalan pendidikan, utamanya bagi kaum perempuan, supaya kita sebagai bangsa Indonesia bisa berfikir kritis dan berorientasi maju.

Perempuan itu adalah Raden Dewi Sartika. Sama seperti R.A. Kartini, beliau adalah seorang tokoh perintis pendidikan bagi kaum perempuan, khususnya di Tanah Pasundan. Beliau terlahir dari keluarga bangsawan Sunda, yakni dari Pasangan R. Rangga Somanegara dan R. A. Rajapermas, pada 4 Desember 1918. Dengan latar belakang bangsawan, menjadikan Dewi Sartika memiliki kesempatan untuk mengenyam pendidikan formal di Eerste Klasse School atau Sekolah Kelas Satu untuk penduduk non-Eropa. Disana, beliau belajar membaca, menulis, juga mempelajari bahasa Belanda. Namun sayang, beliau tidak bisa melanjutkan sekolahnya dikarenakan ayahnya terjerat rumitnya atmosfer politik yang membuat ayahnya dibuang ke Ternate, Maluku Utara. Harta keluarganya pun disita. Roda kehidupan Dewi Sartika berputar 180 derajat kala itu. Dewi Sartika menggantungkan hidupnya kepada sang paman, Raden Demang Suria Kartahadiningrat. Seorang patih Cicalengka pada masa itu. 

Hidup dengan pamannya tidaklah mudah. Dewi Sartika mendapat perlakuan berbeda dari keluarga pamannya. Dewi Sartika diberi pekerjaan rumah yang banyak dan diperlakukan sebagai pelayan. Meski mengalami masa sulit, semangat Dewi Sartika untuk memperjuangkan pendidikan rupanya tidak berhenti sampai di situ. Dewi Sartika gemar mengajari anak-anak dari seorang pembantu atau rakyat jelata dengan berbekal wawasan yang diperolehnya dari sekolahnya dahulu. Potensi Dewi Sartika di bidang pendidikan sudah terlihat. Hal ini dibuktikan dengan kemampuan membaca dan menulis anak-anak rakyat jelata yang beliau ajar. 

Pada 16 Januari 1904, ketika Dewi Sartika menginjak usia 20 tahun, Dewi Sartika mendirikan sekolah khusus perempuan bernama Sakola Istri, setelah berkonsultasi dengan bupati R.A.A Martanagara. Sekolah itu bertempat di ruangan pendopo Bupati Kabupaten Bandung. Perjalan Dewi Sartika membuka sekolah ini tidaklah mulus. Rencana Dewi Sartika untuk membuka sekolah sempat ditolak pemerintah setempat karena hal ini bertentangan dengan hukum adat yang melarang kaum perempuan mendapatkan pendidikan.

Di sekolah inilah mojang-mojang sunda murid Dewi Sartika itu dibekali beberapa keterampilan, seperti membaca, menulis, memasak, dan menjahit. Pada tahun 1905, murid Dewi Sartika semakin bertambah dari yang semula hanya 20 murid saja. Kondisi ini mengharuskan Sakola Istri  untuk pindah ke lokasi yang lebih mumpuni. Kemudian pindahlah sekolah tersebut ke Jl. Ciguriang, Kebon Cau. Seiring berjalannya waktu, bermunculan pula sekolah-sekolah khusus perempuan di Tanah Pasundan yang dikelola oleh para perempuan yang bercita-cita sama dengan Dewi Sartika. 

Tahun 1914, Sakola Istri berganti nama menjadi Sakola Kaoetamaan Istri. Kemudian pada September 1929, bertepatan dengan hari jadi ke-35 Sakola Kaoetamaan Istri, sekolah tersebut berganti nama lagi menjadi Sakola Raden Dewi. Saat itu pula Dewi Sartika dianugerahi gelar Orde Van Oranje-Nassau. Sekolah Raden Dewi berkembang dengan pesat. Namun, masa pendudukan Jepang membuat sekolah tersebut mengalami krisis keuangan dan peralatan. Pasca kemerdekaan, kesehatan Dewi Sartika mulai menurun. Ketika terjadi Agresi Militer Belanda dalam masa perang kemerdekaan, beliau terpaksa ikut mengungsi ke Tasikmalaya.

Begitu banyak lika-liku perjalanan Dewi Sartika dalam memperjuangkan pendidikan di Indonesia hingga perjalanannya usai pada 11 September 1947, Dewi Sartika kembali ke pangkuan Yang Maha Kuasa. Dewi Sartika dikebumikan di Kompleks Pemakaman Bupati Bandung, Jl. Karang Anyar, Bandung. Atas dedikasinya dalam mencerdaskan bangsa, utamanya bagi kaum perempuan,  beliau diberi gelar kehormatan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional pada tanggal 1 Desember 1966. Namanya pun kini menjadi nama jalan di tempat sekolahnya berada. 

Kantun jujuluk nu arum

Kari wawangi nu seungit

Seperti kutipan lirik kawih "Dewi Sartika" di atas, kini, Dewi Sartika hanyalah tinggal nama. Nama yang abadi. Nama yang semerbak ke seluruh Tanah Pasundan, ke seluruh penjuru negeri. Tak lupa juga dengan jasa-jasanya yang patut dihargai oleh kita sebagai bangsa Indonesia yang beretika. Sudah seharusnya kita mencontoh semangat Dewi Sartika dalam dunia pendidikan. Apalagi sekarang sudah bukan zamannya lagi perempuan sulit untuk mendapat pendidikan. Bagi kaum perempuan, pendidikan bukan hanya untuk mendapat karir saja. Pendidikan yang baik akan menjadi modal untuk meningkatkan kualitas diri dan taraf hidup kedepannya. 

 

Komentar